M.Haryono, S.H., CPM.CPCLE , Ketua Umum PD KAMMI Serdang Bedagai – Tebing Tinggi Kritisi Progam Pembangunan IPLT

oleh -73 Dilihat

Tebingtinggi,Sosioinfo.com-Pembangunan landscape atau taman di kawasan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) pada dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Pemko Tebing Tinggi sering disebut sebagai upaya memperindah area pelayanan publik. Namun, dalam praktiknya, langkah tersebut justru menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai prioritas pembangunan dan efektivitas penggunaan anggaran daerah. Sebagaimana data menunjukkan bahwa anggaran untuk membangun proyek landscape/taman di IPLT tersebut berdasarkan Tahun Anggaran 2025 senilai Rp. 98.500.000, tentu ini menjadi perbincangan menarik dihadapan publik.

Sebagai elemen masyarakat yang berkewajiban mengawal kebijakan publik, Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)  Serdang Bedagai – Tebing Tinggi memandang bahwa pembiayaan taman di area IPLT bukanlah kebutuhan mendesak dan berpotensi menjadi penggunaan anggaran yang tidak memberikan manfaat signifikan bagi pelayanan sanitasi.

Ketua Umum PD KAMMI Tebing Tinggi – Serdang Bedagai menegaskan kepada awak media Kamis 12/12/25 bahwa IPLT bukanlah ruang publik yang dikunjungi masyarakat secara luas, melainkan fasilitas teknis yang seharusnya difokuskan pada peningkatan kapasitas, efektivitas, dan kualitas pengolahan limbah, Ujar Haryono.

  1. Fokus IPLT Adalah Fungsionalitas, Bukan Estetika.
    IPLT bertugas mengolah lumpur tinja — sebuah fungsi vital bagi kesehatan lingkungan. Jika kualitas pengolahan belum optimal, kondisi kolam belum memenuhi standar, atau sarana prasarana pengangkutan dan pemrosesan masih terbatas, maka pembangunan taman hanya akan menjadi hiasan tanpa relevansi. Pembangunan estetika tidak boleh mendahului pembenahan kinerja teknis.
  2. Penggunaan Anggaran Publik Harus Tepat Sasaran.
    Dalam situasi di mana masyarakat masih menghadapi persoalan sanitasi dasar, drainase buruk, dan infrastruktur lingkungan yang tertinggal, pembangunan taman di lokasi IPLT dapat dipandang sebagai prioritas yang keliru. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar diarahkan pada pemenuhan hak dasar warga, bukan pada proyek sekunder yang minim urgensi.
  3. Risiko Menjadi Proyek Seremonial
    Pembangunan landscape di area teknis rawan terjebak menjadi proyek seremonial atau pencitraan belaka. Fasilitas yang seharusnya berorientasi pada efisiensi dan keberlanjutan pengolahan limbah justru diperlakukan sebagai ruang kosmetik. Ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara perencanaan dan kebutuhan real lapangan.
  4. KAMMI Mendesak Evaluasi Transparan.
    Sehingga, Kami mendorong pemerintah daerah untuk:
  • Menjelaskan secara terbuka dasar perencanaan pembangunan taman di IPLT
  • Menyampaikan rincian anggaran dan analisis manfaatnya
  • Melakukan kaji ulang terhadap prioritas pembangunan fasilitas sanitasi
  • Memastikan bahwa perencanaan ke depan berorientasi pada kepentingan publik, bukan sekadar penampilan fisik proyek.
Baca Juga  Polres Tebing Tinggi Tangani Kecelakaan Maut Kereta Api, Delapan Orang Meninggal Dunia

Pembangunan landscape di IPLT harus menjadi bahan refleksi bersama, Apakah kita sedang mengejar substansi, atau justru terjebak dalam simbolisme cosmetical project? Sanitasi adalah pondasi kesehatan masyarakat. Maka kebijakan terkait IPLT seharusnya menempatkan fungsi, kualitas teknis, dan kebermanfaatan publik di atas segala hal, Tutup Haryono.

PD KAMMI Serdang Bedagai – Tebing Tinggi akan terus mengawal isu-isu strategis daerah dan memastikan bahwa kebijakan publik berjalan sesuai prinsip keadilan, transparansi, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *